Keberadaan orang-orang Tionghoa yang menganut Islam, termasuk sebagian wali songo, dengan sengaja ditekan oleh tangan-tangan penguasa. Tentunya hal tersebut dapat meruntuhkan peran besar orang Jawa.
Resensi Buku
Judul : Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa Dan Timbulnya Negara-Negara Islam Di Nusantara
Penulis : Prof. Dr. Slamet Muljana
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Tahun Terbut : 2005
Tebal : xxvi + 302 halaman
Ungkapan bahwa ‘Ogni Vera Historiae, Historiae contemporeae’ mungkin ada benarnya. Sejarah yang benar akhirnya akan terungkap di masa kini. Penulisan sejarah yang selama ini dikendalikan oleh pemerintah, terutama saat Orde Baru berkuasa, telah menjadi semacam dogma yang tidak boleh dibantah. Pasca tumbangnya Soeharto, teriakan-teriakan kecil yang dulu dibungkam, kini mulai bersuara kembali. Tentunya dengan memberikan versi yang menyimpang dari sejarah mainstream.
Seperti buku yang ditulis oleh Slamet Muljana dengan judul ‘Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa Dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara’. Buku tersebut kembali diterbitkan, setelah sebelumnya selama lebih dari tiga dekade dibredel oleh penguasa melalui tangan Kejaksaan Agung. Pembredelan tersebut terkait dengan isi buku tersebut yang menyatakan bahwa penyebaran Islam banyak dilakukan oleh orang-orang Tionghoa. Serta kesimpulan penulis bahwa sebagian walisongo, ternyata, orang-orang Tionghoa yang telah menganut agama Islam bermazhab Hanafi.
Hasil temuan yang sangat kontroversial ini, berbeda dengan teori-teori penyebaran Islam sebelumnya yang Arab-sentris. Selain itu juga menghancurkan kebanggaan sejarah orang-orang Jawa yang, selama ini, meyakini bahwa tokoh-tokoh penyebar agama Islam terbesar di Nusantara yang kerap dikenal sebagai Walisongo, berasal dari pulau tersebut.
Raja-raja Demak dan Walisongo Orang Tionghoa?
Tumbuhnya kota pelabuhan Demak yang kemudian menjadi Negara tersendiri, tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu-Jawa. Awalnya kota Demak hanya sebuah daerah hutan bernama Bintara, yang kemudian dibuka oleh Raden Patah. Dalam kronik Tionghoa yang yang ditemukan di klenteng Sam Po Kong (Cheng Ho) Semarang, Raden Patah disebut sebagai Jin Bun dan merupakan anak dari raja terakhir Majapahit, Kertabhumi atau Brawijaya, dengan putri Cina. Lalu Jin Bun diasuh oleh Swan Liong, yang kemudian dianugerahi nama Arya damar dan diangkat menjadi raja (penguasa) di Palembang oleh prabu Brawijaya.
Jin Bun atau Raden Patah kemudian membuka hutan tersebut dan menjadi ulama dan mengumpulkan pengikut agama Islam, baik masyarakat Tionghoa maupun Jawa, atas ijin Bong Swi Hoo atau Sunan Ampel. Pasca Bong Swi Hoo wafat pada tahun 1406, tentara Demak menyerbu kerajaan Majapahit setelah sebelumnya dinasehati oleh Gan Si Cang agar jangan menggunakan kekerasan terhadap raja Majapahit. Setelah Demak menjadi Negara yang berdiri sendiri, Gan Si Cang ini merupakan Kapten Cina, gelar bagi syahbandar Tionghoa, di Semarang yang lebih dikenal sebagai Sunan Kalijaga oleh masyarakat Jawa. Sebaliknya, Majapahit menjadi daerah bawahan Demak.
Selanjutnya Negara Demak memimpin penyebaran Islam di pulau Jawa. Misalnya dengan mengirim Toh A Bo ke Cirebon dan Banten untuk menjadi raja Islam pertama di daerah tersebut. Di Banten, Toh A Bo menyerahkan tahtanya kepada anaknya. Hingga wafatnya, Toh A Bo menjadi raja di Cirebon dan jenazahnya dimakamkan di Gunung Jati. Sejak saat itu, masyarakat Jawa lebih mengenalnya sebagai Sunan Gunung Jati. Sebagaimana disebutkan dalam Babad tanah Jawi dan Serat Kanda.
Penggunaan Sumber Sejarah Tak Resmi
Dalam bukunya yang kontroversial ini, Slamet Muljana menggunakan dasar-dasar sumber sejarah yang tidak lazim digunakan oleh para sejarawan. Umumnya para sejarawan menggunakan sumber sejarah yang sahih dan ajeg. Namun ia menggunakan karya-karya sastra yang bahkan bersinggungan ke perihal mitos dan legenda, yang diragukan kebenaran sejarahnya.
Misalnya Babad Tanah Jawi dan Serat kanda, kronik sejarah populer bahasa Jawa, yang kemudian diperbandingkan oleh Slamet Muljana dengan kronik Tionghoa yang ditemukan di Klenteng Sam Po Kong di Semarang. Kronik ini diumumkan oleh Ir M.O Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao, sebagai lampiran dengan judul ‘Peranan Orang-Orang Tionghoa/Islam/Hanafi di dalam Perkembangan Agama Islam di Pulau Jawa’.
Seperti diakui sendiri oleh Slamet Muljana dalam kata pengantarnya, “Berita-berita itu perlu ditapis dengan sangat teliti dari dongengan-dongengan di dalamnya, untuk memperoleh fakta sejarah”. Selain kedua kronik sejarah tersebut, ia juga menggunakan kronik Tionghoa yang ditemukan oleh residen Poortman pada tahun 1928 di Klenteng Sam Po Kong, Semarang. Menurut Asvi Warman Adam, kelemahan buku ini karena Slamet Muljana tidak memeriksa langsung kesahihan naskah-naskah asli dari kronik Tionghoa temuan residen Poortman. Namun Slamet Muljana hanya melihat dari buku yang ditulis oleh M.O Parlindungan.
Akan tetapi, terlepas dari hal tersebut, diharapkan banyak sejarawan yang tidak mengesampingkan sumber-sumber berbahasa Cina. “Selama 35 tahun, hal ini telah terabaikan,” ungkap Asvi Warman Adam.
Pembredelan
Tindakan represif oleh pemerintah Orde Baru kerap dilakukan untuk membungkam siapa saja yang dianggap akan mengancam kekuasaannya, salah satunya dengan pembredelan. Dengan dalih ancaman komunisme, pemerintah melalui Departemen Penerangan-nya melarang segala hal yang berbau Cina. Sekolah Cina ditutup paksa, bahasa Cina dilarang pemakaiannya hingga simbol-simbol seperti lampion dan barongsai hingga Imlek pun dilarang dirayakan. Aksi ini akibat dari peristiwa Gerakan 30 September, yang menyebabkan Cina dianggap musuh negara.
Hal tersebut berimbas pada buku karya Slamet Muljana ini. Buku ini dilarang oleh pihak Kejaksaan Agung karena mengungkapkan hal-hal yang kontroversial bahwa sebagian Walisongo merupakan orang Tionghoa. Padahal siapapun dan darimana asal orangnya, berhak menganut agama Islam. Orang-orang Tionghoa sekalipun. Karena kebenaran sejarah mengenai peranan orang-orang Tionghoa dalam penyebaran Islam di Nusantara, memang perlu diungkapkan. Misalnya saja Cheng Ho yang banyak meninggalkan jejak akulturasi islam dengan Cina di daerah-daerah pantai nusantara, tidak bisa dipungkiri adanya.
‘Sejarah ditulis oleh tangan-tangan pemenang’, kiranya dapat menggambarkan kondisi penulisan sejarah di Indonesia. Dimana pelajaran sejarah selalu dijadikan alat pemerintah untuk menjinakkan dan memandulkan kekritisan rakyatnya. Wajar kiranya kalau belajar sejarah terasa sangat membosankan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar