Siang itu cukup terik. Di ruang rehabilitasi, salah satu sudut Rumah Sakit Jiwa Dr Soeharto Heerdjan, Grogol, Rudi duduk sambil menghisap sebatang rokok di tangannya. Mengenakan kaos yang dilapisi jaket serta jeans berwarna hitam, wawancara antara reporter Didaktika Abe dan Rudi pun berjalan dengan santai.
Saat itu di ruang tersebut, baru saja selesai diadakan pengajian rutin yang diperuntukkan bagi pasien disana (RSJ-red). Karena masjid yang biasanya digunakan untuk mengadakan pengajian, sedang digunakan oleh pihak rumah sakit untuk memperingati Isra Mi’raj. Rudi, begitu dia biasa dipanggil, terkadang selalu mengikuti pengajian yang menjadi aktivitas rutin di Rumah Sakit Jiwa di bilangan Grogol ini.
Rudi merupakan salah satu pasien yang dinyatakan telah sembuh dari penyakit jiwanya pada bulan juli lalu. Namun seperti yang diakuinya bahwa penyakit jiwanya ini tidak akan pernah sembuh sampai selama hidupnya. “Pasien jiwa itu tidak akan pernah sembuh. Karena selamanya dia akan tergantung dengan obat-obatan dari rumah sakit. Kapan dan dimana pun bisa saja kambuh,” ungkapnya sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
Pasca dinyatakan sembuh, bukan berarti Rudi terus meninggalkan rumah sakit ini. Ia dipekerjakan sebagai karyawan bantu yang jam kerjanya hanya setengah hari. Memang sudah menjadi kebijakan rumah sakit, bagi mantan pasien, bahkan yang masih menjadi berstatus pasien, dipekerjakan sebagai karyawan bantu dan mendapat gaji. Dengan syarat pasien tersebut berkelakukan baik selama berada di rumah sakit.
Di rumah sakit jiwa tersebut, terdapat beberapa pasien dan mantan pasien yang telah menjadi karyawan bantu. Karena tidak sedikit pasien yang telah dianggap sembuh, namun tidak diambil oleh keluarganya, lalu dipekerjakan oleh pihak rumah sakit.
Melihat fenomena tersebut, Rudi dengan didukung oleh program Dompet Dhuafa Republika, merencanakan untuk membangun rumah singgah bagi pasien RSJ yang tidak diambil dan tidak diakui lagi oleh keluarganya. “Rencananya kami mau membangun rumah singgah. Dengan saya sebagai koordinatornya. Sekarang dalam pencarian lahan untuk pembangunannya,” papar pria yang lahir 30 tahun lalu pada tanggal 24 Juli ini.
Dia juga menambahkan, saat di rumah singgah tersebut, para mantan pasien akan dikaryakan, sebagai mata pencarian. Selain itu, para mantan pasien juga dapat bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat setempat. Sehingga tidak hanya melulu dibatasi oleh dinding rumah sakit jiwa yang dijaga ketat oleh petugas.
Selain sibuk dalam pembangunan rumah singgah, saat ini ia sedang mengerjakan biografi tentang hidupnya, yang sekarang masih dalam proses penulisan. Hal tersebut dilakukannya karena terinspirasi oleh sebuah buku dengan judul Aku Tahu Aku Gila.
Dengan penuh harap, biografinya kelak akan pula menginspirasi hidup orang lain, khususnya mantan pasien penyakit jiwa. Rencananya juga biografi tersebut tidak hanya akan dikemas dalam bentuk buku, tapi juga dalam bentuk CD bekerja sama dengan Dr Abu Bakar Baraja, psikolog yang membantunya melakukan terapi penyembuhan penyakit jiwa.
Karena aktivitas-aktivitas tersebut, Rudi sering kali diminta menjadi pembicara dalam seminar-seminar mengenai kesehatan jiwa dan mental. Bahkan ia pernah menjadi salah satu bintang tamu dalam sebuah acara talk show di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu. “Karena saya menjadi bintang tamu di stasiun televisi swasta itu, para tetangga saya tidak pernah menyangka kalau saya pernah menderita penyakit gila, bahkan sampai tiga kali masuk rumah sakit jiwa,” ujar anak pertama dari pasangan Ita dan Siswanto, yang rencananya akan melangsungkan pernikahannya pada bulan Desember nanti.
Korban Bullying
Masa kecil Rudi dijalani seperti anak kecil pada umumnya. Namun ia senang menyendiri dan sangat pendiam. Selain daripada itu, tidak ada yang mencolok dari dirinya, seperti yang diungkapkan oleh orang tuanya, Ita dan Siswanto.
Mungkin karena itulah, ia kerap mengalami bullying dari teman-temannya. Bahkan seringkali ia dipalak oleh orang-orang di jalanan, hanya karena ia memiliki ciri-ciri fisik tionghoa, berkulit kuning dengan mata agak sipit.
“Tahun-tahun itu kan, sentimen terhadap orang-orang keturunan tionghoa masih sangat terasa di kalangan masyarakat pribumi. Padahal saya sendiri baru tahu kalau memiliki darah tionghoa, setelah masuk kuliah. Sebelumnya nggak pernah merasa kalau saya seorang keturunan tionghoa.”
Akibat terus-menerus menjadi korban bullying, ia memutuskan untuk belajar ilmu kebatinan. Bersama teman semasa SMP-nya, ia belajar ilmu tersebut selama beberapa tahun. Ilmu tersebut dapat mengkebalkan tubuhnya dari benda tajam apapun. Seperti diakuinya, berkat ilmu kebatinan ini secara tidak langsung membangkitkan rasa percaya dirinya.
Efek negatif ilmu ini merupakan salah satu penyebab kambuhnya penyakit jiwa yang pernah dialaminya dua tahun lalu. Maka dari itu, pada tahun 2006, ia dirawat masuk ke Rumah Sakit Jiwa Dr Soeharto Heerdjan, Grogol, Jakarta Barat. Setelah sebelumnya ia dirawat di Rumah Sakit Darma Graha, Tangerang, pada tahun 2004.
“Kalau yang pertama, bukan karena efek ilmu kebatinan. Itu disebabkan karena adanya konflik dengan keluarga dan tekanan dari pacar. Sedangkan yang ketiga kalinya, terjadi pada bulan Juli lalu. Itu dikarenakan ada orang di tempat kerja yang menusuk saya dari belakang. Hingga mengharuskan saya menanggung ganti rugi dari tempat saya bekerja sebesar enam juta rupiah,” papar Rudi sambil memakan kue dari pengajian tadi.
Ketika ditanya harapan terakhirnya, hanya ada satu kata yang terlintas di benaknya, yaitu kesehatan. Menurutnya, dengan menjadi sehat, ia dapat melakukan banyak hal untuk orang lain. Paling tidak, menjadi lentera yang dapat memercikkan cahayanya untuk orang-orang di sekitarmya/
Jumat, 06 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar