aku

aku...... siapa aku? ada apa dengan aku? dan mengapa mesti aku? memangnya dimana keberadaanku? truz kapan dimulainya eksistensiku? binguuung.........

Jumat, 13 Februari 2009

Siapa yang mau ciuman?

Nah, di hari Valentine's Day ini, pasti tidak akan ketinggalan ngomongin ciuman.
Di hari yg menurut para pasangan manusia, sangat sakral ini, mengungkapkan cintanya dengan cara memberikan ciuman kepada pasangannya masing2. Entah ciuman itu untuk mengungkapkan rasa cintanya atau hanya sebatas perayaan seksuil semata, menjadi sangat relatif kan? Kita gak bisa men-judge orang lain. Daripada pusing2 ngatain orang, mendingan baca nih arti ciuman menurut dosen-dosen;
1. Bagi dosen teknik, ciuman adalah teknik memutar lidah antar 2 individu.
2. Bagi dosen fisika, ciuman adalah gaya tarik menarik antara 2 mulut.
3. Bagi dosen kimia, ciuman adalah reaksi akibat interaksi dan senyawa yang dikeluarkan oleh 2 hati.
4. Bagi dosen mikrobiologi, ciuman adalah pertukaran bakteri uniseksual di dalam air liur.
5. Bagi dosen bahasa, ciuman adalah bahasa bibir.
6. Bagi dosen biologi, ciuman adalah pembagian otot oris dalam keadaan kontraksi.
7. Bagi dosen ekonomi, ciuman adalah sesuatu dimana permintaan lebih besar daripada penawaran.
8. Dan bagi dosen sejarah, ciuman adalah peperangan antar 2 lidah yang berlainan ideologi dan saling menaklukan untuk memenangkan pertarungan.

Arti Cinta?

Wah, skg tanggal 14 Februari nih... Biasanya pada tanggal segini, semua orang dari yang dewasa, remaja dan tak ketinggalan anak bocah esde (baca: SD) pun tidak mau kehilangan moment, just to discribe how big love they have... berbagai simbol pun, kerap mengiringi perayaan ini. Sebut saja bunga dan berbagai pernak-pernik berbentuk hati berikut warna khasnya, pink.
Kalau ditanya, apa artinya Cinta? (duh, koq kayak judul film sih!) pasti beragam pula pendapat setiap orang. Saya ingin mengisahkan segelintir cerita yg mungkin bs menjelaskan cinta itu seperti apa. Begini ceritanya(kl yg ini, mirip kata2 pembuka acara2 misteri. he2..);

Sebelum menikah:
Suami: Akhirnya!! Aku sudah menunggu saat ini tiba sejak lama.....
Istri: Apakah kamu rela jika aku pergi?
Suami: Tentu tidak!! Jangan pernah kau berpikiran seperti itu....
Istri: Apakah kau mencintaiku?
Suami: Tentu!! Dan tetap selamanya aku akan begitu.....
Istri: Apakah kau pernah selingkuh?
Suami: Tidak!! Aku takkan pernah melakukan hal buruk itu.....
Istri: Maukah kau menciumku?
Suami: Ya.....
Istri: Sayangku......

Menurut kalian, bagaimana kelanjutan kisah sepasang suami dan istri tsb?
Kalian akan menemukan jawabannya, jika kalian membaca cerita tadi dari bawah ke atas!
Nah.... itulah cinta menurut saya! Bagaimana cinta menurut anda? Silahkan kasih komentar

Jumat, 06 Februari 2009

Mengungkap Peran Orang Tionghoa Dalam Penyebaran Islam Di Jawa

Keberadaan orang-orang Tionghoa yang menganut Islam, termasuk sebagian wali songo, dengan sengaja ditekan oleh tangan-tangan penguasa. Tentunya hal tersebut dapat meruntuhkan peran besar orang Jawa.

Resensi Buku
Judul : Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa Dan Timbulnya Negara-Negara Islam Di Nusantara
Penulis : Prof. Dr. Slamet Muljana
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Tahun Terbut : 2005
Tebal : xxvi + 302 halaman

Ungkapan bahwa ‘Ogni Vera Historiae, Historiae contemporeae’ mungkin ada benarnya. Sejarah yang benar akhirnya akan terungkap di masa kini. Penulisan sejarah yang selama ini dikendalikan oleh pemerintah, terutama saat Orde Baru berkuasa, telah menjadi semacam dogma yang tidak boleh dibantah. Pasca tumbangnya Soeharto, teriakan-teriakan kecil yang dulu dibungkam, kini mulai bersuara kembali. Tentunya dengan memberikan versi yang menyimpang dari sejarah mainstream.
Seperti buku yang ditulis oleh Slamet Muljana dengan judul ‘Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa Dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara’. Buku tersebut kembali diterbitkan, setelah sebelumnya selama lebih dari tiga dekade dibredel oleh penguasa melalui tangan Kejaksaan Agung. Pembredelan tersebut terkait dengan isi buku tersebut yang menyatakan bahwa penyebaran Islam banyak dilakukan oleh orang-orang Tionghoa. Serta kesimpulan penulis bahwa sebagian walisongo, ternyata, orang-orang Tionghoa yang telah menganut agama Islam bermazhab Hanafi.
Hasil temuan yang sangat kontroversial ini, berbeda dengan teori-teori penyebaran Islam sebelumnya yang Arab-sentris. Selain itu juga menghancurkan kebanggaan sejarah orang-orang Jawa yang, selama ini, meyakini bahwa tokoh-tokoh penyebar agama Islam terbesar di Nusantara yang kerap dikenal sebagai Walisongo, berasal dari pulau tersebut.
Raja-raja Demak dan Walisongo Orang Tionghoa?
Tumbuhnya kota pelabuhan Demak yang kemudian menjadi Negara tersendiri, tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu-Jawa. Awalnya kota Demak hanya sebuah daerah hutan bernama Bintara, yang kemudian dibuka oleh Raden Patah. Dalam kronik Tionghoa yang yang ditemukan di klenteng Sam Po Kong (Cheng Ho) Semarang, Raden Patah disebut sebagai Jin Bun dan merupakan anak dari raja terakhir Majapahit, Kertabhumi atau Brawijaya, dengan putri Cina. Lalu Jin Bun diasuh oleh Swan Liong, yang kemudian dianugerahi nama Arya damar dan diangkat menjadi raja (penguasa) di Palembang oleh prabu Brawijaya.
Jin Bun atau Raden Patah kemudian membuka hutan tersebut dan menjadi ulama dan mengumpulkan pengikut agama Islam, baik masyarakat Tionghoa maupun Jawa, atas ijin Bong Swi Hoo atau Sunan Ampel. Pasca Bong Swi Hoo wafat pada tahun 1406, tentara Demak menyerbu kerajaan Majapahit setelah sebelumnya dinasehati oleh Gan Si Cang agar jangan menggunakan kekerasan terhadap raja Majapahit. Setelah Demak menjadi Negara yang berdiri sendiri, Gan Si Cang ini merupakan Kapten Cina, gelar bagi syahbandar Tionghoa, di Semarang yang lebih dikenal sebagai Sunan Kalijaga oleh masyarakat Jawa. Sebaliknya, Majapahit menjadi daerah bawahan Demak.
Selanjutnya Negara Demak memimpin penyebaran Islam di pulau Jawa. Misalnya dengan mengirim Toh A Bo ke Cirebon dan Banten untuk menjadi raja Islam pertama di daerah tersebut. Di Banten, Toh A Bo menyerahkan tahtanya kepada anaknya. Hingga wafatnya, Toh A Bo menjadi raja di Cirebon dan jenazahnya dimakamkan di Gunung Jati. Sejak saat itu, masyarakat Jawa lebih mengenalnya sebagai Sunan Gunung Jati. Sebagaimana disebutkan dalam Babad tanah Jawi dan Serat Kanda.

Penggunaan Sumber Sejarah Tak Resmi
Dalam bukunya yang kontroversial ini, Slamet Muljana menggunakan dasar-dasar sumber sejarah yang tidak lazim digunakan oleh para sejarawan. Umumnya para sejarawan menggunakan sumber sejarah yang sahih dan ajeg. Namun ia menggunakan karya-karya sastra yang bahkan bersinggungan ke perihal mitos dan legenda, yang diragukan kebenaran sejarahnya.
Misalnya Babad Tanah Jawi dan Serat kanda, kronik sejarah populer bahasa Jawa, yang kemudian diperbandingkan oleh Slamet Muljana dengan kronik Tionghoa yang ditemukan di Klenteng Sam Po Kong di Semarang. Kronik ini diumumkan oleh Ir M.O Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao, sebagai lampiran dengan judul ‘Peranan Orang-Orang Tionghoa/Islam/Hanafi di dalam Perkembangan Agama Islam di Pulau Jawa’.
Seperti diakui sendiri oleh Slamet Muljana dalam kata pengantarnya, “Berita-berita itu perlu ditapis dengan sangat teliti dari dongengan-dongengan di dalamnya, untuk memperoleh fakta sejarah”. Selain kedua kronik sejarah tersebut, ia juga menggunakan kronik Tionghoa yang ditemukan oleh residen Poortman pada tahun 1928 di Klenteng Sam Po Kong, Semarang. Menurut Asvi Warman Adam, kelemahan buku ini karena Slamet Muljana tidak memeriksa langsung kesahihan naskah-naskah asli dari kronik Tionghoa temuan residen Poortman. Namun Slamet Muljana hanya melihat dari buku yang ditulis oleh M.O Parlindungan.
Akan tetapi, terlepas dari hal tersebut, diharapkan banyak sejarawan yang tidak mengesampingkan sumber-sumber berbahasa Cina. “Selama 35 tahun, hal ini telah terabaikan,” ungkap Asvi Warman Adam.

Pembredelan
Tindakan represif oleh pemerintah Orde Baru kerap dilakukan untuk membungkam siapa saja yang dianggap akan mengancam kekuasaannya, salah satunya dengan pembredelan. Dengan dalih ancaman komunisme, pemerintah melalui Departemen Penerangan-nya melarang segala hal yang berbau Cina. Sekolah Cina ditutup paksa, bahasa Cina dilarang pemakaiannya hingga simbol-simbol seperti lampion dan barongsai hingga Imlek pun dilarang dirayakan. Aksi ini akibat dari peristiwa Gerakan 30 September, yang menyebabkan Cina dianggap musuh negara.
Hal tersebut berimbas pada buku karya Slamet Muljana ini. Buku ini dilarang oleh pihak Kejaksaan Agung karena mengungkapkan hal-hal yang kontroversial bahwa sebagian Walisongo merupakan orang Tionghoa. Padahal siapapun dan darimana asal orangnya, berhak menganut agama Islam. Orang-orang Tionghoa sekalipun. Karena kebenaran sejarah mengenai peranan orang-orang Tionghoa dalam penyebaran Islam di Nusantara, memang perlu diungkapkan. Misalnya saja Cheng Ho yang banyak meninggalkan jejak akulturasi islam dengan Cina di daerah-daerah pantai nusantara, tidak bisa dipungkiri adanya.
‘Sejarah ditulis oleh tangan-tangan pemenang’, kiranya dapat menggambarkan kondisi penulisan sejarah di Indonesia. Dimana pelajaran sejarah selalu dijadikan alat pemerintah untuk menjinakkan dan memandulkan kekritisan rakyatnya. Wajar kiranya kalau belajar sejarah terasa sangat membosankan.

(Berusaha) Menjadi Lentera Jiwa Orang Lain

Siang itu cukup terik. Di ruang rehabilitasi, salah satu sudut Rumah Sakit Jiwa Dr Soeharto Heerdjan, Grogol, Rudi duduk sambil menghisap sebatang rokok di tangannya. Mengenakan kaos yang dilapisi jaket serta jeans berwarna hitam, wawancara antara reporter Didaktika Abe dan Rudi pun berjalan dengan santai.

Saat itu di ruang tersebut, baru saja selesai diadakan pengajian rutin yang diperuntukkan bagi pasien disana (RSJ-red). Karena masjid yang biasanya digunakan untuk mengadakan pengajian, sedang digunakan oleh pihak rumah sakit untuk memperingati Isra Mi’raj. Rudi, begitu dia biasa dipanggil, terkadang selalu mengikuti pengajian yang menjadi aktivitas rutin di Rumah Sakit Jiwa di bilangan Grogol ini.
Rudi merupakan salah satu pasien yang dinyatakan telah sembuh dari penyakit jiwanya pada bulan juli lalu. Namun seperti yang diakuinya bahwa penyakit jiwanya ini tidak akan pernah sembuh sampai selama hidupnya. “Pasien jiwa itu tidak akan pernah sembuh. Karena selamanya dia akan tergantung dengan obat-obatan dari rumah sakit. Kapan dan dimana pun bisa saja kambuh,” ungkapnya sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
Pasca dinyatakan sembuh, bukan berarti Rudi terus meninggalkan rumah sakit ini. Ia dipekerjakan sebagai karyawan bantu yang jam kerjanya hanya setengah hari. Memang sudah menjadi kebijakan rumah sakit, bagi mantan pasien, bahkan yang masih menjadi berstatus pasien, dipekerjakan sebagai karyawan bantu dan mendapat gaji. Dengan syarat pasien tersebut berkelakukan baik selama berada di rumah sakit.
Di rumah sakit jiwa tersebut, terdapat beberapa pasien dan mantan pasien yang telah menjadi karyawan bantu. Karena tidak sedikit pasien yang telah dianggap sembuh, namun tidak diambil oleh keluarganya, lalu dipekerjakan oleh pihak rumah sakit.
Melihat fenomena tersebut, Rudi dengan didukung oleh program Dompet Dhuafa Republika, merencanakan untuk membangun rumah singgah bagi pasien RSJ yang tidak diambil dan tidak diakui lagi oleh keluarganya. “Rencananya kami mau membangun rumah singgah. Dengan saya sebagai koordinatornya. Sekarang dalam pencarian lahan untuk pembangunannya,” papar pria yang lahir 30 tahun lalu pada tanggal 24 Juli ini.
Dia juga menambahkan, saat di rumah singgah tersebut, para mantan pasien akan dikaryakan, sebagai mata pencarian. Selain itu, para mantan pasien juga dapat bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat setempat. Sehingga tidak hanya melulu dibatasi oleh dinding rumah sakit jiwa yang dijaga ketat oleh petugas.
Selain sibuk dalam pembangunan rumah singgah, saat ini ia sedang mengerjakan biografi tentang hidupnya, yang sekarang masih dalam proses penulisan. Hal tersebut dilakukannya karena terinspirasi oleh sebuah buku dengan judul Aku Tahu Aku Gila.
Dengan penuh harap, biografinya kelak akan pula menginspirasi hidup orang lain, khususnya mantan pasien penyakit jiwa. Rencananya juga biografi tersebut tidak hanya akan dikemas dalam bentuk buku, tapi juga dalam bentuk CD bekerja sama dengan Dr Abu Bakar Baraja, psikolog yang membantunya melakukan terapi penyembuhan penyakit jiwa.
Karena aktivitas-aktivitas tersebut, Rudi sering kali diminta menjadi pembicara dalam seminar-seminar mengenai kesehatan jiwa dan mental. Bahkan ia pernah menjadi salah satu bintang tamu dalam sebuah acara talk show di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu. “Karena saya menjadi bintang tamu di stasiun televisi swasta itu, para tetangga saya tidak pernah menyangka kalau saya pernah menderita penyakit gila, bahkan sampai tiga kali masuk rumah sakit jiwa,” ujar anak pertama dari pasangan Ita dan Siswanto, yang rencananya akan melangsungkan pernikahannya pada bulan Desember nanti.

Korban Bullying
Masa kecil Rudi dijalani seperti anak kecil pada umumnya. Namun ia senang menyendiri dan sangat pendiam. Selain daripada itu, tidak ada yang mencolok dari dirinya, seperti yang diungkapkan oleh orang tuanya, Ita dan Siswanto.
Mungkin karena itulah, ia kerap mengalami bullying dari teman-temannya. Bahkan seringkali ia dipalak oleh orang-orang di jalanan, hanya karena ia memiliki ciri-ciri fisik tionghoa, berkulit kuning dengan mata agak sipit.
“Tahun-tahun itu kan, sentimen terhadap orang-orang keturunan tionghoa masih sangat terasa di kalangan masyarakat pribumi. Padahal saya sendiri baru tahu kalau memiliki darah tionghoa, setelah masuk kuliah. Sebelumnya nggak pernah merasa kalau saya seorang keturunan tionghoa.”
Akibat terus-menerus menjadi korban bullying, ia memutuskan untuk belajar ilmu kebatinan. Bersama teman semasa SMP-nya, ia belajar ilmu tersebut selama beberapa tahun. Ilmu tersebut dapat mengkebalkan tubuhnya dari benda tajam apapun. Seperti diakuinya, berkat ilmu kebatinan ini secara tidak langsung membangkitkan rasa percaya dirinya.
Efek negatif ilmu ini merupakan salah satu penyebab kambuhnya penyakit jiwa yang pernah dialaminya dua tahun lalu. Maka dari itu, pada tahun 2006, ia dirawat masuk ke Rumah Sakit Jiwa Dr Soeharto Heerdjan, Grogol, Jakarta Barat. Setelah sebelumnya ia dirawat di Rumah Sakit Darma Graha, Tangerang, pada tahun 2004.
“Kalau yang pertama, bukan karena efek ilmu kebatinan. Itu disebabkan karena adanya konflik dengan keluarga dan tekanan dari pacar. Sedangkan yang ketiga kalinya, terjadi pada bulan Juli lalu. Itu dikarenakan ada orang di tempat kerja yang menusuk saya dari belakang. Hingga mengharuskan saya menanggung ganti rugi dari tempat saya bekerja sebesar enam juta rupiah,” papar Rudi sambil memakan kue dari pengajian tadi.
Ketika ditanya harapan terakhirnya, hanya ada satu kata yang terlintas di benaknya, yaitu kesehatan. Menurutnya, dengan menjadi sehat, ia dapat melakukan banyak hal untuk orang lain. Paling tidak, menjadi lentera yang dapat memercikkan cahayanya untuk orang-orang di sekitarmya/