PUNK DALAM KONTROVERSI
"Kita tidak menyalahkan media. Karena yang kita lawan adalah semua bentuk penindasan, dan penindasan itu ada dimana-mana. Kalau kita memusuhi media, bagaimana kita menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat yang buta terhadap punk," Mike Marjinal.
Ungkapan ini sedikit banyak menggambarkan sikap Mike terhadap media, terutama media besar dan mapan yang menjadi hal kontroversial bagi dunia punk belakangan. Di satu sisi, ada yang membuka diri terhadap kemungkinan bekerjasama sebagai siasat sosialisasi pesan-pesan punk kepada masyarakat. Di sisi lain, ada yang menolaknya mentah-mentah.
Kontroversi ini berawal dari kemunculan band Green Day dalam industri musik dunia. Dengan kemunculannya, musik punk menjadi sebuah tren baru dalam bermusik. Sebagai subkultur, punk saat itu belum sepenuhnya diterima kalangan luas musik dunia. Sejak rilisnya album pertama Green Day, Dookie (1994), yang terjual lebih dari 15 juta kopi, korporasi musik dunia mulai melirik punk sebagai komoditas. Perlahan-lahan punk menjadi fenomena. Kemudian banyak band punk bermunculan dengan menggandeng major label. Sebut saja Rancid, Offspring, Blink 182 serta Good Charlotte. Mereka mengalirkan keuntungan yang tak sedikit bagi label yang menaunginya. Fenomena awal 90-an ini dianggap telah menggadaikan musik punk. Band punk yang bekerjasama dengan major label sering menuai kritik karena beralih kepada kepentingan komersil.
Kejadian hampir serupa juga terjadi di dunia musik punk Indonesia. Awal tahun 2000-an, saat pop-punk mulai menjadi tren, terjadi peristiwa yang cukup monumental. Tepatnya tahun 2003, band punk asal Bali, Superman Is Dead (SID) menandatangani kontrak dengan salah satu label besar, Sony Music, untuk merilis album Kuta Rock City. Muncul opini bahwa SID dianggap sellout, yang mau mengkompromikan prinsip dan independensi punk dengan bekerjasama dengan korporasi mapan.
"Jujur saja, kita (SID-red) merasa tertekan dan tidak bebas menentukan pilihan. Seakan ada ‘polisi punk’ yang bertugas untuk menghakimi seberapa punk-nya seseorang. Pernah saat kita manggung, dilempari dan bahkan dipukuli penonton. Padahal tujuan utamanya yaitu untuk membunuh karir SID," ungkap Jerink, drummer Superman Is Dead, yang dikutip di sebuah majalah ibukota edisi tahun lalu.
Selama ini, band-band punk Indonesia terbentuk dari komunitas-komunitas jalanan yang merilis albumnya lewat jalur indie. Sesuai dengan prinsip dan etos DIY mereka, yakni melakukan sesuatu dengan usaha sendiri tanpa bergantung kepada pihak lain yang akan berujung eksploitatif. Pendirian label-label independen juga dianggap sebagai perlawanan terhadap industri musik yang didominasi label-label besar. Secara tidak langsung, label indie yang banyak berdiri dapat menghambat prospek bisnis penjualan rekaman label besar.
Marjinal, salah satu band punk Jakarta, pada prinsipnya tidak anti pada label besar. Selama ini yang mereka lawan adalah kebijakan label besar yang dinilainya menindas dan mendominasi. Ini dapat dilihat dari isi perjanjian kontrak yang terlalu mengatur semua kegiatan bermusik artis yang bernaung dibawahnya. Itulah yang mendorong mereka tetap memproduksi sendiri lagu-lagu mereka.
"Mungkin saja kita (Marjinal-red) menerima tawaran untuk melakukan kerjasama dengan major label. Bila dari pihak label hanya membicarakan manajemen saja. Sedangkan untuk kebebasan berkarya dan berkreatifitas, semuanya diserahkan kepada artisnya," ungkap Mike, gitaris Marjinal.
Bob, salah satu punggawa Marjinal, mengatakan bahwa label besar umumnya selalu mengintervensi dan memaksa artisnya untuk membuat musik yang sesuai selera pasar. Sehingga tak ada kebebasan dalam berkarya dan berkreatifitas.
Pernyataan lebih keras dilontarkan oleh Rubbish, vokalis band Street Voices. "Punk gak butuh mereka (label besar-red) kok, untuk apa? Toh yang mereka pikir cuma bagaimana untuk meningkatkan keuntungan finansialnya. Apalagi punk sekarang sedang digandrungi anak-anak muda. Kalau ada band dengan embel-embel punk di TV, pasti bakal laku."
Punk Masuk Televisi?
Perbedaan sikap dan pandangan tiap komunitas-komunitas punk lumrah terjadi. Termasuk soal media. Sikap terbuka terhadap media pernah dilakukan oleh Komunitas Taring Babi yang tampil dalam acara di salah satu televisi swasta nasional pada 15 Januari 2007, berjudul "Generasi Punk: Punk Never Die".
Beragam komentar langsung berdatangan setelah penayangan acara tersebut. Banyak yang kecewa atas penayangan kegiatan mereka dalam program TV, yang notabene perusahaan televisi besar. Belum lagi ledekan sinis atas nama pribadi, seperti yang tercantum dalam blog Komunitas Marjinal. Misalnya dari seseorang yang menyebut dirinya ‘Hatiygluka’, "Tau tuuuh... Taring Babi mo jadi artis kalee.. Biar tenar? Wuuuih... kasihan," tulisnya.
Biar begitu, ada juga yang beranggapan positif. "Aku rasa menjadi idealis, bukan berarti menolak semua yang tidak kita suka. Ketika hal itu memberikan sesuatu yang tidak merugikan orang lain. Kenapa tidak? Lagipula dengan tampilnya Taring Babi di televisi, bukankah sedikit banyak bisa membuka pandangan masyarakat yang selama ini memandang kita (Komunitas punk-red) sebelah mata," tulis salah satu pengisi blog tersebut dengan identitas ‘Skinny idub’.
Kontroversi masuknya salah satu band punk dalam media besar, cetak maupun elektronik, memang dilematis. Karena di sisi lain, mereka sangat membutuhkan media untuk memperkuat dan menjelaskan eksistensinya kepada masyarakat. Sehingga masyarakat tidak hanya memandang sebelah mata saja, tapi banyak potensi pemberdayaan yang dilakukan oleh komunitas punk, semisal Komunitas Taring Babi.
Lazimnya komunitas punk memang membatasi diri pada media massa atau media elektronik besar. Komunitas punk cenderung memakai medianya sendiri, macam zine, blog komunitas hingga distro dengan produk sarat makna. Selain itu, adanya anggapan bahwa media-media besar, selain hanya mementingkan oplah atau rating, terkadang tidak seimbang dalam pemberitaannya yang menampilkan punk hanya dari sisi buruknya saja. Hal ini dapat kita lihat dalam acara reality show ‘7 Hari Menuju Taubat’. Seorang punk digambarkan sebagai sosok penuh dosa yang harus bertaubat.
"Selama ini Taring Babi tidak membatasi diri pada siapapun. Bila ada wartawan atau siapapun yang ingin melihat dan meliput kegiatan kita sehari-hari, kita selalu open house. Mereka datang dengan niat baik, kita pun menyambutnya dengan baik pula. Kami menerima ikut masuk dalam acara tersebut, sebagai upaya untuk memberikan counter information kepada masyarakat," tutur Bob.
Mike pun langsung bercerita mengenai komentar negatif maupun kecaman yang diterima komunitasnya, apalagi setelah penampilan mereka di acara televisi. "Sampai saat ini teman-teman yang kontra tidak pernah datang langsung kesini untuk berdialog. Mungkin saja pengertian anti media menurut mereka dengan kami berbeda. Yang terjadi malah seakan pemaksaan suatu pola pemikiran yang harus sama. Itu kan yang harusnya kita lawan," paparnya.
Mike juga menyesalkan, semangat dan jiwa punk seharusnya menghargai suatu kebebasan dan perbedaan pemikiran. Tapi yang terjadi kemudian, justru malah cenderung mengintimidasi dan menjatuhkan teman sendiri tanpa proses dialog lebih lanjut.
"Gue sih sangat menyayangkan sekali keputusan mereka untuk masuk dalam acara tersebut. Mungkin saja Taring Babi dan Marjinal punya alasan khusus. Kalau sekarang menjadi kontroversi, mungkin dari pihak mereka kurang adanya komunikasi dan mensosialisasikannya dengan komunitas punk lainnya," ujar Iyos, salah satu musisi punk yang juga menjadi pengurus Movement Record.
Begitupun yang dilontarkan Eko, vokalis band Bunga Hitam. "Kalau ada band punk, siapapun, yang kemudian masuk ke media besar, itu hanyalah ajang cari popularitas aja. Karena punk memang sudah punya pasar dan medianya sendiri. Buat gue sendiri, gue cuma percaya dengan media yang gue punya. Sekali lagi, ’Our Way or No Way’. Dengan cara kita atau tidak sama sekali," tegasnya.
Mitha dari Red Rebel House menyikapinya lebih bijak. "Anggap saja ribut-ribut mengenai tampilnya Marjinal di acara tivi sebagai proses pendewasaan bagi eksistensi punk. Lagipula dengan kejadian ini membuat kawan-kawan di komunitas menjadi lebih berhati-hati dalam bersikap. Terutama terhadap media," katanya saat diwawancarai di daerah Bulungan.
Senada dengan Mitha, Aldam pun menyesali terjadinya saling hujat antar sesama punk. "Kalau menurut saya, (kejadian ini) hanya kesalahpahaman saja. Karena tidak adanya saling pengertian diantara mereka. Sangat disayangkan sekali bila terjadi seperti ini," papar siswa SMA 43 Jakarta ini.
Seakan tak perduli dengan beragam komentar yang terus berdatangan, mereka (Bob dan Mike Marjinal-red) ikut main dalam film Nagabonar Jadi Dua, film besutan Deddy Mizwar. Dengan tampilnya mereka dalam film tersebut, semakin menandakan konsistensi sikap mereka terhadap media.
Bersikap terbuka atau tidak, merupakan pilihan individu atau komunitas masing-masing. Memang, pada akhirnya media akan membentuk opini. Tapi harus diingat, bahwa pembentukan opini media harus tetap berdasarkan fakta yang akurat dan independensi. Bukan subjektifitas semata.
Perbedaan dalam komunitas punk harus tetap ada, agar tidak adanya keseragaman atau bahkan penyeragaman. Dari perbedaan-perbedaan tersebut, akan memberi warna bagi komunitas punk itu sendiri. Jangan sampai perbedaan itu malah merusak cita-cita punk yang selama ini dibangun dengan kebersamaan. Apalagi merusak semangat dan solidaritas punk yang telah mendarah daging.
Punk memang gampang dimasuki dan merasuki, tapi sangat sulit untuk dimengerti. Dari soal musik, life style sampai idealisme, melahirkan banyak pemahaman yang berbeda. Sangat pantas bila pepatah ‘Don’t Judge a book by it’s cover’ ini ditujukan bagi orang yang melihat punk hanya dari sisi luarnya saja.
1 komentar:
mari bermain musik punkrock
Posting Komentar