Ketika saya menuliskan opini ini, saya baru saja menyelesaikan novel keempat tetralogi Laskar Pelangi yang berjudul Maryamah Karpov: Mimpi-Mimpi Lintang. Awalnya saya memang tidak tahu dan tidak juga tertarik untuk membaca apalagi membeli novel tersebut bila saya sedang singgah di Gramedia. Namun atas anjuran seorang dosen mata kuliah filsafat, cukup membuat saya ingin tahu dan penasaran seperti apa isinya. karena beliau menggunakan novel tersebut sebagai salah satu bahan rujukan dalam kuliahnya.Akhirnya dengan 3 rangkaian novel Laskar Pelangi yang beliau pinjamkan yaitu Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor (Maryamah Karpov belum keluar saat itu), saya mulai membacanya dengan takzim.Novel pertama mengisahkan tentang tokoh utama yang dipanggil Ikal, si penulis sendiri, dengan laskar pelangi yang seluruhnya berjumlah 10 orang di sebuah sekolah reyot dan rapuh di desa terpencil Pulau Belitong, Gantong. Novel kedua menceritakan Ikal dan Arai yang berpetualang hingga akhirnya sama-sama mendapatkan beasiswa ke Prancis. sedangkan yang ketiga, petualangan kedua tokoh tersebut mengelilingi Eropa dan sebagian Afrika. hingga tanpa dinyana, Ikal menemukan desa Edensor, yang mengingatkannya dengan A Ling.Novel ini yang kemudian difilmkan memang cukup menarik. banyak hal yang dikisahkan menyentuh hati para pembacanya semisal saat sekolah itu terancam ditutup jika tidak memenuhi persyaratan minimal siswa baru yang mendaftar yaitu 10 siswa. selain itu, keadaan sekolah yang sangat memprihatinkan. Hal tersebut mengingatkan saya pada puisi yang dibacakan oleh seorang mantan Rektor IKIP saat ulang tahun PGRI, bahwa sekolah di Indonesia banyak yang mirip dengan kandang ayam, sehingga menimbulkan kegeraman Wapres, Jusuf Kalla.Penggambaran kondisi pendidikan di pulau tersebut seakan menjadi cerminan bahwa pendidikan kita sangat belum merata, apalagi di daerah pedalaman. bahkan di kota besar sekalipun layaknya Jakarta, masih dapat ditemukan sekolah yang hampir rubuh dan juga anak-anak yang tidak mendapatkan hak-haknya untuk mengenyam pendidikan yang layak seperti halnya Lintang di novel tersebut.
Eropa-centris
Pada saat membaca serangkaian novel-novel Laskar Pelangi, ada beberapa hal yang sangat mengusik saya. penulis, Andrea Hirata, kerap menyebarkan ide-ide modernisasi yang terutama mengacu dalam segala hal yang berbau Eropa. dalam novel tersebut, diceritakan bagaimana mimpi Ikal untuk dapat mencapai Prancis atau lebih tepatnya Sorbonne, seperti yang diungkapkan Lintang kepada Ikal bahwa Sorbonne merupakan gudangnya orang-orang pintar di dunia.Cita-cita atau bahkan mimpi dapat dibentuk melalui media. dan ide-ide tentang obsesi ke Eropa menjadikan para pembacanya mengidealkan kehidupan di Eropa jauh lebih baik dari pada di negeri sendiri. sehingga orang lebih bangga memiliki identitas kebaratan dari pada Indonesia. padahal di Indonesia juga memiliki perguruan tinggi yang tidak kalah hebat semisal UI yang masuk 200 besar perguruan tinggi terbaik dunia.Dalam wacana post-kolonialisme, seringkali mengkritik mindset rakyat jajahan yang selalu berorientasi pada negara penjajahnya. segala hal yang berbau negara barat, akan dapat menaikkan status sosialnya atau sebagai social climbing. karena memang dalam stratifikasi sosial, orang-orang Eropa berada di kasta tertinggi, sedangkan pribumi di titik nadir. maka dengan ngehitsnya novel ini, bisa jadi ikut pula menyebarkan virus-virus modernisme yang sangat Eropa-centris ke alam bawah sadar masyarakat
Sabtu, 03 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar